Tampilkan postingan dengan label The Black Magician. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Black Magician. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

High Lord (Sang Ketua Penyihir)

Penulis   : Trudi Canavan
Penerbit : Mizan Fantasi


Dari judul novelnya sepertinya sudah dapat ditebak cerita di dalam seri ketiga Trilogi Black Magicians ini tentang Sang Ketua Penyihir Akkarin. Memang tokoh utama di novel ketiga Black Magicians : High Lord adalah Akkarin dan Sonea. Namun di novel ini (yang menurut saya seri terbaik dari ketiga novel Black Magician) Kyralia akan menghadapi pertempuran dan serangan besar dari musuh lama mereka Sanchaka. Sanchaka adalah negera tetangga di luar persekutuan negara-negara. Ratusan tahun yang lalu Sanchaka pernah dihancurkan oleh Kyralia, dan akibat peperangan besar antara kedua negara tersebut Sanchaka berada di dalam kekuasaan Kyralia selama bertahun-tahun setelahnya. Namun hal tersebut tidak cukup meredakan kekhawatiran para penyihir besar Kyralia, mereka memberikan hukuman mengerikan kepada masyarakat Sanchaka, sehingga Sanchaka tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menghimpun kekuatan dan membalas dendam kepada Kyralia. Selama ratusan tahun pemahaman tersebut tertanam di dalam diri para pemimpin Kyralia dan juga para petinggi penyihirnya. Tidak lama setelah Akkarin mengetahui kenyataan yang sebaliknya, Kyralia berada di ambang kemusnahan. (Kisah pertempuran antara Kyralia dan Sanchaka ini bisa dibaca di Magician Apprentice : prekuel trilogi The Black Magician).

Selasa, 05 April 2011

The Novice (Rahasia Sihir Hitam Mematikan)

Penulis    : Trudi Canavan
Penerbit  : Mizan Fantasi



The Novice ini merupakan kelanjutan cerita dari buku pertama The Black Magician, Magician Guild.  Di buku ini diceritakan tentang kehidupan Sonea, gadis dari pemukiman kumuh yang mempelajari sihir di Universitas Persekutuan Penyihir. Di cerita sebelumnya, bakat Sonea yang tak diduganya membawanya kepada tragedi. Pelarian paling melelahkan sepanjang hidupnya, dan ancaman kehilangan teman terbaiknya, Ceri.

Bakat Sonea yang besar mengantarkannya ke pintu Menara Persekutuan Penyihir. Tak pernah ada sebelumnya dalam sejarah persekutuan penyihir, bahwa seorang calon penyihir berasal dari rakyat biasa di pemukiman kumuh. Sonea adalah pengecualian. Mungkin itu adalah pilihan untuk menghindari bencana yang lebih besar karena kekuatan Sonea yang luar biasa. Namun mungkin juga persekutuan penyihir sudah berubah pikiran terhadap calon-calon penyihir potensial di luar lingkaran bangsawan. Setidaknya itu lah yang dipikirkan Rothen, guru pembimbing Sonea, dia lah satu-satunya yang bersikeras untuk memberikan kesmpatan pada Sonea untuk melihat sisi lain dari sihir yang bermanfaat bagi manusia. Sonea melihat sihir penyembuhan, dan dirinya mulai jatuh hati dengan penggunan sihir untuk menolong orang lain. Setidaknya itulah alasan Sonea ketika dia memutuskan masuk ke Asrama Persekutuan Penyihir untuk menjalani tes calon murid penyihir.

Senin, 04 April 2011

Trudi Canavan and her books

Saat pertama kali menulis halaman ini, sebenarnya saya ingin melanjutkan cerita trilogi The Black Magician buku pertama, The Magician Guild. Pada akhirnya saya putuskan untuk menulis tentang penulisnya.


Sampai dengan saat ini, Trudi Canavan sudah menulis tiga set cerita trilogi dan satu novel prekuel. The Black Magician adalah trilogi pertama yang sudah beredar di Indonesia. Cerita ini terbagi menjadi tiga judul, The Magician Guild, The Novice, dan High Lord. Trilogi lainnya merupakan kelanjutan dari cerita The Black Magician dengan mengambil latar belakang yang sama yaitu Kyralia. The Traitor Spy Trilogy menceritakan kisah petualangan anak Sonea dan Akkarin, dan persekutuan penyihir pada generasi berikutnya. The Magician Apprentice adalah cerita pre-kuel yang terjadi ratusan tahun sebelum cerita The Black Magician. Sedangkan buku yang berbeda adalah The Age of Five, yang bercerita tentang manusia-manusia super pilihan dewa. Lima orang manusia yang menjadi penghubung antara dewa dengan makhluk ciptaannya. Cerita Trudi Canavan yang terakhir memang agak nyeleneh, namun sebenarnya di dalam bukunya sendiri mengangkat nilai-nilai yang biasa muncul dalam buku-buku kepahlawanan semacamnya. Ada romantisme dan percintaan, kepelikan masalah politik, perseteruan antara kebaikan dan kejahatan, dan keberanian.

Kesuksesan itu tidak didapatkan dengan begitu saja, saya rasa itu juga yang terjadi pada penulis novel fantasi fiksi era modern saat ini. Seperti halnya J.K. Rowling yang memulai menulis Harry Potter di sebuah kafe kecil dengan status pengangguran, bagi seorang Trudi Canavan, memulai menulis artinya mulai fokus dengan apa yang ingin dikerjakannya. Sebuah keputusan besar harus dilakukan, jika kita ingin mencapai sesuatu yang lebih besar lagi. Trudi Canavan mengambil permulaan dengan berhenti dari full time job-nya dan mengambil part time job untuk meluangkan waktu yang lebih banyak dengan menulis. Bagi mereka calon penulis yang memiliki dukungan finansial yang kuat mungkin bukan menjadi masalah, namun sebaliknya kebanyakan penulis fiksi kreatif memulai debutnya dengan penghasilan pas-pasan, pengaturan keuangan yang ketat. Sambil mengambil kursus menulis Trudi Canavan mulai memikirkan tentang menulis sebuah trilogi. Trilogi kisah fantasi memang sangat disukai penerbit karena sedang menjadi trend pada saat itu (sekitar akhir tahun 90 an).

Saya suka salah satu ungkapan Trudi Canavan tentang menulis. Satu-satunya cara untuk meningkatkan kemampuan menulis adalah dengan menulis sebanyak-banyaknya. Trudi Cananvan sendiri menghabiskan satu tahun menulis hanya untuk mendapatkan garis besar ceritanya. (Semoga suatu saat saya bisa mengikuti langkah-langkah para penulis luar biasa ini, practice a lot make us getting better).

Minggu, 13 Maret 2011

The Magicians Guild (Persekutuan Penyihir)

Penulis     : Trudi Canavan
Penerbit   : Mizan Fantasi




Yap ... this episod is about wizarding story.

First book dari trilogi The Black Magician ini, berasal dari imajinasi penulis Australia. Buku ini ketika pertama kali diterbitkan berhasil meraih Nominasi Aurealis Award untuk Novel Fantasi Terbaik. Mungkin sekilas buku ini bercerita seperti halnya buku-buku Harry Potter dan Septimus Heap, namun satu keunggulan dari buku ini adalah tokoh utamanya seorang gadis, dan plot yang disuguhkan lebih berintrik dan penuh petualangan. Satu hal yang pasti novel ini bukan untuk anak-anak.

Selama dua hingga tiga tahun terakhir Sonea tinggal di pinggiran kota Imardin ibukota Kyralia. Bersama kedua orang tua penggantinya, paman dan bibinya, hidup di penampungan bagian utara terasa lebih normal dan aman dbandingngkan tinggal di gerbang kota Imardin. Disana mereka masih bisa menghasilkan uang dengan memperbaiki baju dan sepatu. Tidak seperti di gerbang kota Imardin, lingkungan yang kumuh dan kejahatan merajalela. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan di dalam kotanya sendiri, rumah-rumah indah milik para bangsawan dan pengusaha kaya berjejer. Rakyat kecil Kyralia menyalahkan raja mereka karena tidak peka dengan kehidupan masyarakat bawah. Sedangkan para bangsawan dan petinggi menyalahkan Kaum Pencuri yang semakin hari semakin menimbulkan keonaran di kota Imardin. Salah satu akibatnya adalah kebiasaan Pembersihan Kota yang dilakukan raja terdahulu untuk mengusir masyarakat kelas bawah dari kota Imardin. Dan disinilah Sonea, di tengah mereka yang sedang diusir dari penampungan karena raja Kyralia menganggap mereka menjijikan.