Selasa, 28 Februari 2012

Benang Merah

Red Thread of Destiny atau disebut juga Red String of Destiny, dalam terjemahan bahasa Indonesia disebut benang merah takdir adalah sebuah legenda yang dipercayai dalam kebudayaan Asia Timur. Hasil telusur di google via wikipedia legenda benang merah memang berasal dari China. Dalam budaya China dipercayai, bahwa ada benang merah yang mengikat jari setiap orang dengan jodohnya. Benang merah ini tak terlihat, walaupun harus melalui perjalanan hidup yang berliku-liku sepasang anak manusia yang telah ditakdirkan untuk berjodoh ini akan bertemu dan saling jatuh cinta. Dalam cerita komik Jepang benang merah takdir sering digambarkan melingkar di jari kelingking. Benang merah ini bisa kusut, dan meregang namun pada akhirnya akan berujung pada jari kelingking pasangannya.

Seandainya benang merah ini dapat dilihat oleh mata kita, saya yakin pasti kita akan banyak menjumpai orang-orang yang sibuk menggulung benang merah miliknya demi mengetahui jari milik siapakah yang terikat di ujung benang lainnya, hehe.

Saya pribadi percaya bahwa setiap pilihan yang kita pilih baik di masa lalu ataupun sekarang menentukan masa depan kita. Dan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita bukan semata-mata kebetulan (saya tidak setuju dengan adanya kebetulan). Setiap kejadian itu pasti ada maksud dan tujuannya. Dalam pemikiran  saya sama seperti menyusun puzzle, setiap kali kita menyelesaikan satu puzzle, ternyata puzzle yang kita selesaikan tersebut merupakan potongan dari puzzle yang lebih besar yang harus kita selesaikan juga. Dan begitu seterusnya. Dan kalau bicara tentang jodoh atau pasangan yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan kita, aah .. saya hanya heran kenapa disebut benang merah kalau keyataannya benang tersebut tidak bisa dilihat alias transparan. Bukankah lebih tepat kalau disebut benang transparan ? (just kidding).

Ada sebuah drama jepang yang berjudul Akai Ito, bercerita tentang dua orang anak manusia yang menjalani hidup berliku-liku penuh dengan kesulitan hingga mereka memenuhi takdirnya, untuk menjadi pasangan satu sama lain. Sebuah kalimat yang sangat menyentuh menjadi pengantar drama tersebut yang menggambarkan bagaimana benang merah menjadi penghubung sepasang kekasih, bahkan sebelum mereka menyadarinya : 
"Tuhan telah membuat kau dan aku terpaut lewat benang merah yang panjang... dalam sebuah ikatan takdir tak terlihat dan tanpa peta... Hingga nanti aku akan jatuh cinta saat bertemu denganmu... "

Karena saya penyuka dorama, ada satu ungkapan menarik dalam satu judul drama Korea yang berjudul Creating Destiny. Drama yang bercerita tentang dua orang anak manusia yang telah dijodohkan sejak masih kecil oleh kedua orang tua mereka, namun terhalang oleh pasangan mereka masing-masing. Perjodohan bukanlah sesuatu hal yang bisa diterima dengan sukarela dan terkesan sangat kuno di jaman modern saat ini. Namun ketika salah satu dari mereka ditanya kenapa dirinya sangat bersikeras menolak perjodohan tersebut, dia menjawab : "Tentu saja karena aku mencintai pasanganku". Dan saat gadis itu ditanya apakah dia yakin bahwa laki-laki yang menjadi pilihannya adalah "the one" yang diciptakan untuknya.
"Saya tidak tahu. Akan lebih baik jika jawabannya itu 'tertulis dengan jelas' di kening mereka' ".
(Saya yakin tidak seorang pun mau jidatnya dicoret-coret pake spidol :) )

Jadi, itulah benang merah, kadang kusut, kadang terjalin dengan benang lain, kadang meregang, tapi tidak akan pernah putus. Yang perlu dilakukan hanyalah memeriksa jari kelingking orang-orang di sekitar kita, mungkin ada ujung benang merah milik kita terikat di jari kelingking-nya, hahaha.

Jumat, 17 Februari 2012

Duchess by Night

Penulis   : Eloisa James
Penerbit : Dastan Books


Beberapa minggu yang lalu, saya tak sengaja membaca salah satu novel yang ber-genre historical romance. Tak beberapa lama saya mulai tergila-gila membaca novel-novel romance lainnya yang berlatar belakang Inggris abad pertengahan. Rata-rata cerita dalam historical romance berkisah tentang kisah cinta para masyarakat kelas atas di Inggris. Kehidupan glamour para bangsawan Eropa dan  Inggris pada khususnya menjadi latar belakang utama dalam setiap cerita novel historical romance. Ketika perbedaan strata masyarakat masih menjadi issue utama di kalangan masyarakat Inggris masa itu, cinta sejati dapat menghapuskannya dan setiap tokoh utama dalam cerita-cerita tersebut berakhir dengan kehidupan pernikahan yang bahagia. Ceritanya memang terkesan tipikal dan memiliki pola yang sama, tapi saya rasa bagi pecinta buku, novel-novel tersebut bisa menjadi hiburan yang menarik. Membaca novel-novel ini membuat saya teringat dengan cerita Pride and Prejudice.

Duchess by Ngiht, bukan novel Historical Romance pertama yang saya baca, sebelumnya saya pernah membaca novel karya Lisa Kleypas yang berjudul Devil in The Winter. Hanya saja saya memang tertarik dengan novel yang satu ini karena alur cerita yang membuat sedikit berdebar-debar :).

Duchess of Berrow, seorang janda bangsawan yang bergelar Duke sudah 2 tahun ditinggal mati oleh suaminya. Kini dia memerintah di sebuah estate peninggalan suaminya. Cerita awal dibuka dengan pengadilan distrik dimana Duchess of Berrow menjadi hakim untuk memberikan hukuman yang pantas dan adil bagi pelanggar-pelanggar hukum di wilayahnya. 

Hampir selama masa pernikahannya Duchess of Berrow tinggal di desa, menjadikan Harriet alias Duchess of Berrow menjadi wanita yang membosankan dan tidak pandai bersenang-senang, tidak seperti kedua sahabatnya yaitu Duchess of Cosway yang gemar menghadiri pesta-pesta mewah di London dan Duchess of Beaumont yang kerap kali mengunjungi Paris untuk menyelenggarakan pesta-pesta private bagi para kenalan dan sahabatnya.

Berawal dari rencana salah satu sahabatnya Irene alias Duchess of Cosway, yang berusaha mati-matian menarik perhatian suaminya yang lebih suka menjelajah benua-benua Asia dan Afrika dibandingkan menemaninya di Inggris, Duchess of Cosway berniat membuat skandal dengan salah seorang duda playboy yang terkenal dengan kelakuan bejatnya. Dengan harapan setelah mendengarkan skandal memalukan tentang istrinya Duke of Cosway akan segera kembali pulang ke Inggris, untuk menyelamatkan istri dan nama baik keluarganya.

Minggu, 15 Januari 2012

The Queen of Attolia

Penulis   : Megan Whalen Turner
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama



Irene bukanlah pewaris utama kerajaan Attolia yang pernah diperintah oleh mendiang ayahnya Raja Attolia. Tetapi setelah saudara-saudara laki-lakinya meninggal dunia dalam usia yang masih muda, Putri Irene menjadi pewaris satu-satunya dari Raja. Kehidupan masa kecilnya yang selalu penuh dengan kesenangan dan kenyamanan, membuat Irene hanya perlu mengetahui bagaimana hidup seperti layaknya seorang Putri. Dia hanya perlu mempelajari bagaimana bersikap anggun dan lembut namun berwibawa, memilih gaun-gaun terbaik untuk acara-acara kerajaan, dan berhias untuk menjadi wanita yang paling cantik di seluruh Attolia. Tapi tak ada seorang pun yang pernah mengajarinya bagaimana menjadi seorang Ratu, penguasa tunggal Attolia.

Pada saat mendiang ayahnya Raja Attolia meninggal dunia, dia tahu bahwa dia tidak tahu sama sekali bagaimana menjadi seorang Ratu dan siapa yang harus dia percayai untuk menjadi orang kepercayaannya. Tapi setidaknya dia telah memiliki suami, seorang bangsawan muda Attolia yang telah dipilih ayahnya untuk menjadi pewaris Attolia sebelum ayahnya meninggal. Jika seandainya Irene tidak mendengar pembicaraan suami dan ayah mertuanya pada hari meninggalnya ayahnya, tentu saat ini dia masih menjadi ratu boneka seperti yang suaminya katakan. Ayahnya Raja Attolia, telah menjual kebahagiaan Irene kepada ayah mertuanya, seorang bangsawan paling berpengaruh di Attolia, agar mereka mau memihak kepada Sang Raja dan istana. Dan kini, ayah mertua dan suaminya telah berhasil mengirimkan mendiang Raja Attolia ke kematian. Mereka tak menyadari, bahwa saat itu mereka baru saja melahirkan seorang Ratu Attolia, bukan hanya sekedar ratu boneka tapi seorang ratu yang tak akan segan menghukum mati siapa saja yang mengkhianatinya. Bangsawan muda yang menjadi suami Putri Irene, tak lama kemudian mati diracun di acara jamuan makan malam istana. Seluruh keluarga mantan suaminya dihukum mati dan kekayaan keluarga mereka disita untuk diserahkan kepada istana.

Ratu Attolia sangat jengkel, bukan hanya karena beberapa penyusup berhasil memasuki wilayahnya dan mencuri batu keramat dewi Hephastia, tapi juga karena mereka si pencuri dan penasehat kerajaan Sounis berhasil kabur dari penjaranya. Eugenides telah berhasil mencuri batu Hephastia yang menjadi perlambang penguasa Eddis. Batu tersebut telah disembunyikan oleh para dewa dengan sangat baik, hampir saja Eugenides gagal mendapatkannya jika Dewa Pencuri tidak mendukungnya saat itu. Sayang mereka tidak berhasil meloloskan diri dari kejaran tentara Attolia, yang mengakibatkan si pencuri meringkuk di dalam penjara Attolia. Eugenides tahu bahwa pengawal yang menyertai perjalanan mereka telah mati, nyawa Magus penasehat Sounis dan Sophos calon Raja Sounis berikutnya cukup berharga bagi Raja Sounis, tapi bagaimana dengan dirinya. Sadar bahwa nasibnya selanjutnya adalah kematian, Eugenides memimpin rombongan kecilnya melarikan diri dari penjara langsung menyeberangi sungai Arachtus menuju ke wilayah Eddis. Disana di perbatasan antara Attolia dan Eddis, prajurit-prajurit Eddis sudah menunggu kedatangannya.

Senin, 09 Januari 2012

I Knew I Loved You - Savage Garden














Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes, I see my future in an instant

And there it goes,
I think I found my best friend
I know that it might sound
More than a little crazy
But I believe


I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

There's just no rhyme or reason
Only the sense of completion
And in your eyes, I see
The missing pieces I'm searching for

I think I've found my way home
I know that it might sound
More than a little crazy
But I believe


I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life


A thousand angels dance around you
I am complete now that I've found you

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life


Minggu, 08 Januari 2012

The Thief (Sang Pencuri dari Eddis)

Penulis   : Megan Whalen Turner
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Serial Eugenides, ini sebenarnya dari segi ide ceritanya lumayan bagus, hanya saja terjemahan kata-kata yang digunakan dalam menyampaikan cerita buku ini agak susah dipahami. Hasilnya kadang-kadang saya harus mengulang beberapa paragraf untuk memastikan interpretasi cerita yang saya tangkap memang benar. Entah karena memang kalimat yang digunakan dalam bahasa inggris oleh penulisnya untuk menggambarkan cerita yang berputar-putar, atau mungkin karena bahasa terjemahannya yang kurang bisa menyampaikan cerita dengan jelas. Saya sendiri bukan ahli bahasa, tapi sebagai seorang penikmat buku fiksi, membaca serial Eugenides ini cukup melelahkan.

The Thief adalah buku pertama dari serial Eugenides yang berjumlah 3 seri. Buku pertama hasil tulisan Megan Whalen Turner sempat meraih penghargaan. Tidak mengherankan sih, karena saya juga berpikir buku ini memberikan banyak kejutan di akhir cerita. Siapa Eugenides? Tokoh utama yang pertama kali diperkenalkan dalam cerita, tidak banyak dijelaskan oleh si penulis selain sebagai seorang tawanan yang dipenjara beberapa bulan di penjara negara Sounis, karena mencuri stempel raja. Karena keahliannya yang dikenal sebagai pencuri yang bisa mencuri apapun dan peluangnya untuk bisa keluar dari penjara Raja Sounis, Eugenides menyetujui tawaran dari Sang Magus penasehat Raja Sounis untuk membantunya mencuri suatu benda di suatu tempat diluar wilayah Sounis, tentu saja dengan imbalan nyawanya dan peluang untuk membebaskan diri dari penjara raja Sounis.

Bersama 4 orang rekannya Sang Magus, murid Sang magus, seorang pangeran yang akan menjadi calon raja Sounis berikutnya, dan seorang pengawal, mereka memulai perjalanannya menuju negara tetangga. Diceritakan bahwa ada 3 negara semenanjung, Sounis, Eddis dan Attolia. Sounis dan Attolia adalah negara kepulauan sedangkan Eddis adalah negara pengunungan yang menghubungkan kedua negara Sounis dan Attolia. Eddis merupakan negara yang diwarisi untuk menjaga gunung api Hephastia, gunung api suci yang merupakan perwujudan dewi pertama di muka bumi. Walaupun kedua negara tetangganya sedang dalam peperangan antara satu sama lain, tetapi Eddis tetap berusaha menjadi netral, karena kehidupan rakyatnya masih banyak bergantung pada perdagangan antara Sounis dan Attolia yang melewati wilayah pegunungan Eddis.

Sounis dipimpin oleh seorang Raja yang belum memiliki ratu dan keturunan, karena itu keponakan Sang Raja diperkirakan menjadi calon terkuat untuk menggantikan Raja Sounis. Sedangkan Eddis dan Attolia keduanya diperintah oleh seorang Ratu yang dikenal bertangan besi terutama Attolia yang terkenal dengan kekejamannya. Persoalan pasangan bagi penguasa menjadi rumit ketika satu sama lain berusaha mempertahankan dan melindungi negaranya masing-masing dari musuh tetangga mereka. Sang Raja Sounis yang bersikeras untuk mepersunting Ratu Eddis, menemui ganjalan ketika Sang Ratu menolaknya. Ini artinya kemungkinan untuk menguasai wilayah Eddis tanpa melalui perang semakin kecil, dan tanpa menguasai Eddis berperang melawan Attolia akan semakin sulit dan menghabiskan biaya dan usaha yang tidak sedikit. Selain itu sang raja harus memiliki keturunan jika ingin penerusnya yaitu raja Sounis berikutnya mewarisi darahnya. Beginilah latar belakang politik antara negara-negara semenanjung yang kemudian tidak sengaja melibatkan sang pencuri.

Eugenides adalah nama Dewa Pencuri, yang kebetulan digunakan oleh sang pencuri, sebuah nama yang diberikan oleh ibunya dulu sebelum ibunya meninggal dunia. Tidak banyak yang diketahui Eugenides tentang benda yang dicari oleh sang Magus dan raja Sounis. Dia hanya tahu bahwa benda tersebut sangat sulit didapat dan terletak sangat jauh dari Sounis. Konon menurut legenda ada sebuah batu yang dihadiahkan oleh Dewi Hephastia kepada penguasa Eddis, batu itu menjadi penanda untuk menentukan siapa penguasa Eddis berikutnya. Siapa pun yang berhasil memiliki batu tersebut berhak atas tahta Eddis. Rupanya setelah Raja Sounis ditolak oleh ratu Eddis, maka dia berencana untuk mencari batu yang telah lama hilang dan menurut cerita telah disembunyikan oleh para dewa, agar Raja Sounis bisa memaksa Ratu Eddis untuk menikah dengannya dan menjadi Raja Eddis.

Sang Magus mengetahui tempat disembunyikannya batu keramat tersebut, hanya saja dia membutuhkan seseorang yang memiliki keahlian khusus untuk mencuri batu tersebut. Karena itulah Sang Magus mempekerjakan sang pencuri yang telah mencuri stempel raja untuk mengambil batu keramat hadiah dari Dewi Hephastia. Melewati daerah pegunungan di wilayah Eddis, rombongan tersebut sampai di wilayah Attolia, negara yang terkenal kejam terhadap penyusup. Kemungkinan Eugenides mendapatkan batu keramat hampir tidak mungkin, karena semua pendahulunya tidak pernah ada yang kembali. Masalah tidak hanya berhenti sampai disitu karena walaupun mereka berhasil mendapatkan batu itu, mereka masih harus mencari jalan untuk kembali ke Sounis melewati Attolia dan Eddis. Hanya saja perjalanan pulang mereka pasti tidak akan sama seperti ketika mereka datang ke Attolia, kabar tentang empat orang asing di wilayah Attolia sudah pasti akan sampai ke telinga Sang Ratu Attolia. Seperti menjemput maut, Eugenides tahu bahwa perjalanannya kali ini menuju kepada kematiannya tanpa ada peluang baginya untuk menghirup kebebasan. Jika tidak dibunuh oleh pasukan Attolia atau Eddis, dia pasti akan dilenyapkan oleh Raja Sounis, karena menjadi saksi mata pencarian batu Hephastia.